KOTAWARINGIN BARAT – Menghadapi dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat melalui Dinas Kesehatan menghadirkan layanan Rumah Oksigen Gratis di 46 titik lokasi sebagai upaya memberikan pertolongan awal bagi masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan akibat paparan asap.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Barat, Hardino, S.Kep., Ns., M.Kes., menjelaskan bahwa Rumah Oksigen menjadi pusat pertolongan pertama bagi warga yang mengalami sesak napas maupun keluhan pernapasan lainnya akibat kondisi udara yang tercemar asap Karhutla.

“Rumah Oksigen hadir sebagai garda terdepan dalam memberikan pertolongan awal kepada masyarakat yang mengalami kegawatdaruratan pernapasan akibat Karhutla. Di sini, warga mendapatkan penanganan awal untuk membantu menstabilkan kondisi kesehatannya sebelum dilakukan rujukan apabila diperlukan,” jelas Hardino.
Ia menegaskan bahwa pelayanan di Rumah Oksigen tidak hanya berfokus pada pemberian oksigen, tetapi juga mencakup pemeriksaan dan penilaian kondisi kesehatan pasien oleh petugas di lokasi. Berdasarkan hasil pemeriksaan dan analisis medis, pasien akan mendapatkan tindak lanjut berupa penanganan lebih lanjut atau rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan sesuai dengan tingkat keparahan kondisinya.

Keberadaan 46 titik Rumah Oksigen Gratis ini diharapkan dapat mempermudah masyarakat memperoleh akses pertolongan awal, terutama ketika kabut asap semakin pekat dan berpotensi memperburuk kondisi kesehatan warga yang rentan, seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.
Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Barat juga mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan saat asap pekat, menggunakan masker yang sesuai ketika harus beraktivitas di luar, serta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas, napas cepat, atau keluhan pernapasan yang memburuk.
Rumah Oksigen Gratis merupakan bentuk kesiapsiagaan pelayanan kesehatan dalam menghadapi dampak Karhutla. Dengan dukungan petugas kesehatan dan akses pertolongan awal di berbagai lokasi, diharapkan masyarakat dapat memperoleh penanganan lebih cepat dan risiko gangguan kesehatan akibat kabut asap dapat diminimalkan.










