Beranda / Uncategorized / Kabut Asap Selimuti Kobar, Kadisdikbud Ingatkan Sekolah Adaptif terhadap Kualitas Udara

Kabut Asap Selimuti Kobar, Kadisdikbud Ingatkan Sekolah Adaptif terhadap Kualitas Udara

img 20261012 wa0055

PANGKALAN BUN, LENSAEXPRES.COM – Tebalnya kabut asap yang menyelimuti wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, menjadi perhatian, terutama terhadap kesehatan masyarakat dan keberlangsungan kegiatan belajar mengajar di satuan pendidikan.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kotawaringin Barat, Muhammad Alamsyah, saat dikonfirmasi wartawan terkait kondisi kabut asap serta program dinas dalam menyikapi situasi tersebut, menjelaskan bahwa tidak ada program dinas yang secara langsung berkaitan dengan kabut asap, selain langkah penyesuaian terhadap dampak yang ditimbulkannya.

“Tidak ada hubungan program dinas dengan kabut asap, kecuali dampak dari kabut asap,” ujar Muhammad Alamsyah kepada wartawan.

Lebih lanjut, ia mengingatkan seluruh satuan pendidikan agar memperhatikan kondisi kualitas udara di wilayah masing-masing. Apabila nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) berada pada kategori Sangat Tidak Sehat atau Berbahaya, sekolah diberikan kewenangan untuk menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran.

Hal tersebut mengacu pada surat imbauan Kepala Disdikbud Kotawaringin Barat Nomor 824/1880/Sekr/Dikbud, khususnya poin 8, yang mengatur penyesuaian kegiatan pembelajaran berdasarkan kondisi kualitas udara setempat.

Penyesuaian tersebut dapat dilakukan melalui pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas maupun perubahan moda pembelajaran secara adaptif, dengan tetap mengutamakan kesehatan dan keselamatan seluruh warga sekolah.

Berdasarkan data BMKG yang disampaikan dalam informasi tersebut, konsentrasi partikulat halus PM2.5 di wilayah Pangkalan Bun tercatat mencapai 211,5, yang disebut berada pada tingkat kualitas udara sangat tidak sehat.

Kondisi ini menjadi perhatian serius karena paparan partikel halus dalam kabut asap dapat mengganggu kesehatan, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan. Karena itu, pemantauan kualitas udara serta penyesuaian aktivitas sekolah menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko paparan asap.

Di tengah kondisi udara yang memburuk, perlindungan terhadap peserta didik dan tenaga pendidik perlu menjadi prioritas. Kebijakan pembelajaran yang adaptif diharapkan dapat memastikan kegiatan pendidikan tetap berlangsung tanpa mengabaikan keselamatan warga sekolah.( Taufik Hidayat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *