PANGKALAN BUN, LENSAEXPRES.COM – Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Pangkalan Bun terus memperkuat sinergi lintas sektor dalam mendukung pembimbingan dan reintegrasi sosial Klien Pemasyarakatan. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) II bertema Review dan Optimalisasi Program Kerja Kelayan Binter, yang digelar di Hotel Arsela, Pangkalan Bun, Senin (12/10/2026).
Kegiatan ini menjadi wadah evaluasi terhadap program yang telah berjalan sekaligus menyusun langkah strategis untuk meningkatkan efektivitas pembimbingan klien agar mampu mengembangkan keterampilan, memperbaiki kualitas diri, serta kembali berperan positif di tengah masyarakat.
Diskusi tersebut melibatkan sejumlah pemangku kepentingan (stakeholder), di antaranya Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan, Dinas Ketenagakerjaan, Kementerian Agama Kabupaten Kotawaringin Barat, Polsek Arut Selatan, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, pihak kelurahan, serta Kelompok Masyarakat Peduli Pemasyarakatan (Pokmas Lipas).
Dalam forum tersebut, berbagai bentuk dukungan dibahas untuk memperkuat pelaksanaan program. Mulai dari pendampingan budidaya ikan menggunakan sistem bioflok, penyediaan informasi pelatihan dan lowongan kerja, bimbingan keagamaan, edukasi hukum, hingga pendampingan bagi perempuan dan anak.
Selain itu, dukungan terhadap kegiatan sosial dan pengembangan usaha produktif turut menjadi perhatian. Langkah ini diharapkan dapat membuka kesempatan bagi Klien Pemasyarakatan untuk meningkatkan kemandirian sekaligus membangun kehidupan yang lebih baik setelah menjalani proses pembimbingan.
Kepala Bapas Kelas II Pangkalan Bun, Tigor Immanuel Hutabalian, menegaskan bahwa keterlibatan berbagai pihak merupakan unsur penting dalam mengoptimalkan program Kelayan Binter.
“Melalui FGD II ini, kami berharap kerja sama dengan seluruh stakeholder semakin kuat dan program Kelayan Binter dapat berjalan lebih optimal. Dukungan dari berbagai pihak sangat penting untuk membantu Klien Pemasyarakatan meningkatkan keterampilan, membangun kepribadian yang lebih baik, serta mempersiapkan diri agar dapat kembali dan berperan positif di tengah masyarakat,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, Bapas Kelas II Pangkalan Bun akan berkoordinasi dengan seluruh stakeholder untuk menyusun jadwal kegiatan dan merealisasikan program yang telah disepakati bersama.
Pembentukan grup WhatsApp juga diusulkan guna mempermudah komunikasi, koordinasi, dan pemantauan pelaksanaan program. Klien Pemasyarakatan nantinya diharapkan dapat dilibatkan dalam berbagai kegiatan, seperti pelatihan kemandirian, kegiatan keagamaan, kerja bakti, aktivitas sosial, hingga sistem keamanan lingkungan (siskamling).
Melalui penguatan kolaborasi tersebut, program Kelayan Binter diharapkan tidak hanya menjadi sarana pembimbingan, tetapi juga mampu membuka ruang bagi Klien Pemasyarakatan untuk mengembangkan potensi, memperoleh keterampilan, dan membangun kembali kepercayaan masyarakat.
Dengan dukungan bersama, proses reintegrasi sosial diharapkan berjalan lebih terarah sehingga klien memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan yang produktif dan memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya.( Taufik Hidayat/










