PANGKALAN BUN, LENSAEXPRES.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berdampak terhadap kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) menjadi perhatian mantan Ketua DPRD Kotawaringin Barat, Triyanto, S.H., M.H. Ia menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi saat ini, terutama ketika kabut asap berpotensi menghambat penerbangan dan menimbulkan kerugian bagi sektor pariwisata serta aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan TNTP.
Menurut Triyanto, TNTP merupakan salah satu ikon kebanggaan Indonesia yang telah dikenal hingga mancanegara, termasuk di berbagai negara Eropa. Karena itu, dampak karhutla terhadap kawasan tersebut tidak boleh dipandang sebagai persoalan kebakaran semata, melainkan juga menyangkut citra pariwisata, kelestarian lingkungan, dan kepentingan ekonomi masyarakat.
“Keprihatinan kita saat ini adalah dampak karhutla yang dapat mengganggu penerbangan. Jika akses transportasi terganggu, tentu bisa berimbas pada kunjungan wisatawan dan menimbulkan kerugian bagi sektor pariwisata TNTP,” ungkap Triyanto.
Ia menegaskan, upaya penanganan karhutla seharusnya tidak hanya berfokus pada pemadaman ketika api sudah meluas. Mitigasi perlu dilakukan sejak dini, mulai dari pemetaan wilayah rawan kebakaran, kesiapan personel dan peralatan, hingga pengawasan serta pencegahan di kawasan yang berpotensi terdampak.
Triyanto juga menyoroti pentingnya transparansi dalam pengelolaan anggaran penanganan karhutla. Menurutnya, setiap anggaran yang dialokasikan untuk pencegahan maupun penanggulangan kebakaran harus dikelola secara terbuka, tepat sasaran, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Anggaran penanganan karhutla harus transparan. Kita perlu mengetahui bagaimana perencanaan, penggunaan, dan hasilnya di lapangan. Jangan sampai anggaran yang disediakan tidak sebanding dengan upaya pencegahan dan penanganan yang dibutuhkan,” tegasnya.
Ia juga menilai, pengawasan terhadap penggunaan anggaran perlu dilakukan secara serius agar setiap dana yang dialokasikan benar-benar memberikan manfaat bagi perlindungan kawasan TNTP dan masyarakat di sekitarnya.
Menurut Triyanto, kolaborasi antara pemerintah, pengelola TNTP, pihak terkait, serta mitra yang terlibat dalam pelestarian kawasan menjadi bagian penting dalam memperkuat pencegahan karhutla. Kontribusi setiap pihak perlu diperjelas agar upaya perlindungan kawasan konservasi tersebut berjalan secara terukur.
TNTP bukan sekadar kawasan konservasi, tetapi juga aset bangsa yang memiliki nilai ekologis dan pariwisata. Karena itu, pencegahan karhutla harus menjadi prioritas bersama, disertai pengelolaan anggaran yang transparan dan pengawasan yang dapat dipertanggung jawabkan. ( Taufik Hidayat)










