PALANGKARAYA – Lensaexpres.com Api yang membakar lahan gambut di Kelurahan Petuk Ketimpun, Kota Palangka Raya, hingga kini belum juga padam. Salah satu penyebab dan menjadi kendala, muka air tanah di kawasan itu sudah turun akibat musim kemarau, sehingga menyulitkan proses pemadaman. Rabu (19/8/2026)
Kepala Daerah Operasi (Daops) Manggala Agni Kalimantan 1 Palangka Raya, Riris Astrida, mengatakan kondisi tanah gambut Palangka Raya memang rentan terhadap penurunan muka air saat kemarau panjang seperti sekarang.
”Khususnya di Kota Palangka Raya ini khususnya adalah tanah gambut. Tapi kalau di musim kemarau ini, tinggi muka air tanah juga sudah menurun. Dan itu menjadi salah satu kendala kita dalam penanganan karhutla,” katanya di lokasi
Untuk menyiasati keterbatasan air, timnya membuat sejumlah titik sumur bor di beberapa lokasi, mulai dari Petuk Ketimpun, empat titik di Kameloh Baru, hingga bekas area kebakaran Robetson DC. Di lokasi kebakaran hari ini pun, satu titik sumur bor baru kembali dibuat untuk mendukung pemadaman.
Selain soal air, Riris juga menyoroti tumpukan bahan bakar di lapangan berupa vegetasi kering seperti pepohonan dan serasah yang tahun ini terpantau lebih banyak dari biasanya. Ditambah arah angin yang tidak menentu, kombinasi itu membuat potensi kebakaran meluas semakin besar.
Untuk saat ini, ujar Riris, fokus timnya bukan langsung memadamkan seluruh titik api, melainkan memblokir penyebarannya lebih dulu. Penanganan pada titik-titik gambut yang terbakar baru akan dilakukan setelah blokade berhasil dan kondisi di lapangan membaik.
Soal seberapa luas lahan yang sudah terbakar di Petuk Ketimpun, Riris mengaku belum bisa memastikan angka pastinya karena api masih aktif. Namun ketika disinggung kemungkinan luasnya sudah mencapai 50 hektare, ia tidak menampiknya.
”Kemungkinan bisa lebih, karena kita lihat di titik-titik ini ada beberapa yang luasannya cukup banyak,” ungkapnya.
Ia menambahkan, perhitungan resmi luas karhutla baru akan keluar setiap akhir bulan, dilakukan oleh Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (PKH) Kementerian Kehutanan bersama sejumlah instansi terkait.
Ditanya soal efektivitas pemadaman lewat udara dibanding jalur darat, Riris menyebut keduanya bukan saling menggantikan, melainkan saling melengkapi dan kombinasi itulah yang selama ini terbukti efektif di lapangan.( Tim Lensaexpres )
Lahan Gambut Petuk Ketimpun Terbakar Lebih dari 50 Hektar, Manggala Agni Ungkap Kendala di lapangan










