Beranda / Kalteng / Karhutla di Petuk Katimpun Masih Aktif, Sumber Air dan Bahan Bakar Kering Jadi Kendala Pemadaman

Karhutla di Petuk Katimpun Masih Aktif, Sumber Air dan Bahan Bakar Kering Jadi Kendala Pemadaman

img 20260819 wa0071

Palangka Raya, Lensa Expres — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Petuk Katimpun, Kota Palangka Raya, hingga kini masih aktif. Kondisi lahan gambut yang semakin kering, terbatasnya sumber air, serta banyaknya vegetasi dan serasah kering menjadi tantangan bagi tim pemadam dalam mengendalikan api.

Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan I/Palangka Raya, Riris Astrida, mengatakan menurunnya tinggi muka air tanah menjadi salah satu kendala utama dalam penanganan karhutla, terutama selama musim kemarau.

“Kalau di musim kemarau ini, tinggi muka air tanahnya juga sudah menurun, dan itu menjadi salah satu kendala kita dalam penanganan karhutla,” ujar Riris.

Untuk mengantisipasi keterbatasan sumber air, Manggala Agni telah membangun sejumlah sumur bor di beberapa lokasi. Di antaranya berada di kawasan Petuk Katimpun dan Kameloh Baru yang memiliki empat titik sumur bor.

Sumur bor di Petuk Katimpun sebelumnya juga dimanfaatkan untuk mendukung pemadaman kebakaran di kawasan Rindam/Cenderawasih. Saat ini, satu titik sumur bor kembali disiapkan di bagian belakang lokasi kebakaran untuk memenuhi kebutuhan air apabila proses pemadaman membutuhkan suplai tambahan.

Namun, ketersediaan air bukan satu-satunya kendala. Kondisi vegetasi dan serasah yang mengering juga meningkatkan potensi api untuk cepat menyebar.

“Kalau ada sumber api, potensi terbakarnya juga sangat tinggi. Penyebarannya juga sangat tinggi, karena sudah kering, anginnya juga berubah-ubah,” jelas Riris.

Menghadapi kondisi tersebut, tim tidak hanya berupaya memadamkan titik api, tetapi terlebih dahulu melakukan pemblokiran agar api tidak meluas. Setelah kondisi api lebih terkendali, petugas kemudian memfokuskan penanganan pada kawasan gambut guna mencegah api kembali muncul.

Luasan Karhutla Belum Dipastikan

Hingga saat ini, luasan lahan yang terbakar di Petuk Katimpun belum dapat dipastikan karena api masih aktif dan petugas belum bisa melakukan penghitungan secara menyeluruh.

Riris memperkirakan luas area terdampak berpotensi lebih dari 50 hektare. Namun, angka tersebut masih bersifat sementara dan menunggu penghitungan resmi.

Perhitungan luasan karhutla dilakukan secara berkala setiap bulan oleh Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Kehutanan (PKHK) Kementerian Kehutanan bersama pemangku kepentingan terkait.

Libatkan Puluhan Personel dan Lintas Instansi

Dalam penanganan karhutla, kekuatan personel menjadi salah satu faktor penting. Daops Manggala Agni Kalimantan I memiliki sekitar 70 personel yang terbagi dalam lima regu.

Tiga regu berada di Kota Palangka Raya, sedangkan masing-masing satu regu ditempatkan di Kabupaten Katingan dan Kabupaten Gunung Mas.

Para personel dikerahkan ke sejumlah titik dan bekerja bersama BPBD provinsi maupun kabupaten/kota, TNI, Polri, Masyarakat Peduli Api (MPA), Tim Serbu Api Kelurahan (TSAK), relawan, Dinas Kehutanan hingga Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP).

Menurut Riris, penanganan melalui jalur darat dan udara memiliki peran yang saling melengkapi dalam menghadapi karhutla.

“Dari udara juga bisa membantu, dari darat juga membantu, saling berkolaborasi,” katanya.

Dengan kondisi lahan gambut yang semakin kering serta banyaknya bahan bakar alami yang mudah terbakar, setiap titik api terus menjadi perhatian petugas. Upaya pemblokiran, penyediaan sumber air, pengerahan personel, serta kolaborasi lintas instansi dilakukan untuk mencegah api meluas.

Sementara itu, kepastian mengenai luasan karhutla di Petuk Katimpun masih menunggu kondisi memungkinkan untuk dilakukan penghitungan serta hasil perhitungan resmi dari pihak terkait.
(Taufik Hidayat)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *