Berdasarkan data yang disampaikan dalam pemaparan kepada Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Kabupaten Sukamara menjadi salah satu wilayah di Kalimantan Tengah yang memiliki kondisi karhutla cukup serius, setelah wilayah Sampit.
Kondisi di lapangan semakin memprihatinkan karena masyarakat harus melakukan pemadaman secara mandiri dengan peralatan yang terbatas. Upaya tersebut dilakukan untuk mencegah api terus meluas dan memasuki kawasan permukiman.
Seorang tokoh masyarakat Kecamatan Jelai yang berhasil dihubungi Lensa Expres melalui telepon seluler mengatakan, berdasarkan kondisi yang mereka lihat di lapangan, diperkirakan masih terdapat sekitar kurang lebih 500 meter api yang berada di sekitar perkampungan hingga mendekati permukiman penduduk.
“Kurang lebih masih ada 500 meter jarak titil api dengan Puskesmas perkampungan dan pemukiman penduduk,” ungkapnya.
Ia mengatakan, masyarakat bersama-sama melakukan pemadaman secara gotong royong dengan menggunakan mesin Robin dan peralatan sederhana lainnya. Namun, upaya tersebut menghadapi kendala karena api bergerak sangat cepat.
“Kami bersama masyarakat lainnya bergotong royong melakukan pemadaman menggunakan mesin Robin. Tetapi kecepatan api sangat tinggi,” katanya.
Menurutnya, kondisi angin menjadi salah satu faktor yang membuat api cepat menjalar. Hembusan angin dari arah laut cukup kencang dan membuat kobaran api dengan cepat berpindah dari satu kawasan ke kawasan lainnya.
“Angin dari laut sangat kencang dan tidak ada penghalang. Itu yang menyebabkan api cepat menjalar. Sementara peralatan yang kami gunakan juga sangat terbatas,” jelasnya.
Keterbatasan peralatan dan personel membuat masyarakat berharap adanya dukungan lebih besar dari pemerintah. Penambahan sarana pemadaman, personel, serta dukungan operasional dinilai sangat diperlukan untuk menjangkau titik-titik api yang sulit diakses.
Apalagi, sebagian kawasan yang terbakar berada di lahan yang cukup sulit dijangkau. Kondisi lahan kering dan semak belukar turut berpotensi mempercepat penyebaran api apabila tidak segera ditangani.
Masyarakat berharap penanganan karhutla di Kecamatan Jelai dapat dilakukan secara terpadu dan lebih maksimal. Hal ini penting untuk mencegah api semakin mendekati permukiman sekaligus melindungi keselamatan warga dan lingkungan.
Kondisi karhutla yang terus berkembang juga menjadi pengingat bahwa penanganan tidak cukup hanya dilakukan ketika api sudah membesar. Pencegahan, patroli, pemantauan titik panas dan kesiapan peralatan pemadam menjadi langkah penting agar kebakaran tidak berkembang menjadi bencana yang lebih luas.(Taufik Hidayat)ara, Kalimantan Tengah, semakin mengkhawatirkan. Luasan dan sebaran titik api di wilayah tersebut menjadi perhatian serius, terlebih api dilaporkan mulai mendekati kawasan perkampungan dan permukiman masyarakat.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam pemaparan kepada Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Kabupaten Sukamara menjadi salah satu wilayah di Kalimantan Tengah yang memiliki kondisi karhutla cukup serius, setelah wilayah Sampit.
Kondisi di lapangan semakin memprihatinkan karena masyarakat harus melakukan pemadaman secara mandiri dengan peralatan yang terbatas. Upaya tersebut dilakukan untuk mencegah api terus meluas dan memasuki kawasan permukiman.
Seorang tokoh masyarakat Kecamatan Jelai yang berhasil dihubungi Lensa Expres melalui telepon seluler mengatakan, berdasarkan kondisi yang mereka lihat di lapangan, diperkirakan masih terdapat sekitar kurang lebih 500 meter api yang berada di sekitar perkampungan hingga mendekati permukiman penduduk.
“Kurang lebih masih ada 500 meter jarak titil api dengan Puskesmas perkampungan dan pemukiman penduduk,” ungkapnya.
Ia mengatakan, masyarakat bersama-sama melakukan pemadaman secara gotong royong dengan menggunakan mesin Robin dan peralatan sederhana lainnya. Namun, upaya tersebut menghadapi kendala karena api bergerak sangat cepat.
“Kami bersama masyarakat lainnya bergotong royong melakukan pemadaman menggunakan mesin Robin. Tetapi kecepatan api sangat tinggi,” katanya.
Menurutnya, kondisi angin menjadi salah satu faktor yang membuat api cepat menjalar. Hembusan angin dari arah laut cukup kencang dan membuat kobaran api dengan cepat berpindah dari satu kawasan ke kawasan lainnya.
“Angin dari laut sangat kencang dan tidak ada penghalang. Itu yang menyebabkan api cepat menjalar. Sementara peralatan yang kami gunakan juga sangat terbatas,” jelasnya.
Keterbatasan peralatan dan personel membuat masyarakat berharap adanya dukungan lebih besar dari pemerintah. Penambahan sarana pemadaman, personel, serta dukungan operasional dinilai sangat diperlukan untuk menjangkau titik-titik api yang sulit diakses.
Apalagi, sebagian kawasan yang terbakar berada di lahan yang cukup sulit dijangkau. Kondisi lahan kering dan semak belukar turut berpotensi mempercepat penyebaran api apabila tidak segera ditangani.
Masyarakat berharap penanganan karhutla di Kecamatan Jelai dapat dilakukan secara terpadu dan lebih maksimal. Hal ini penting untuk mencegah api semakin mendekati permukiman sekaligus melindungi keselamatan warga dan lingkungan.
Kondisi karhutla yang terus berkembang juga menjadi pengingat bahwa penanganan tidak cukup hanya dilakukan ketika api sudah membesar. Pencegahan, patroli, pemantauan titik panas dan kesiapan peralatan pemadam menjadi langkah penting agar kebakaran tidak berkembang menjadi bencana yang lebih luas.(Taufik Hidayat)










