Kalteng LensaExpres.com.Program pembangunan Rice Milling Plant (RMP) dan Rice to Rice (RTR) di Kabupaten Kotawaringin Timur dan Pulang Pisau diharapkan tidak berhenti pada pembangunan fisik semata. Fasilitas tersebut harus benar-benar menjadi bagian dari rantai produksi yang memberikan manfaat langsung kepada petani.
Masyarakat menilai, ketika hasil panen petani dapat diserap, diolah dan dipasarkan melalui fasilitas yang tersedia di daerah, maka nilai ekonomi dari komoditas padi akan lebih banyak berputar di tingkat lokal.
Kelompok tani juga diharapkan memperoleh pendampingan, baik dalam pengelolaan hasil panen, kualitas gabah, proses pascapanen maupun pemasaran beras. Dengan demikian, keberadaan RMP dan RTR bukan hanya menjadi fasilitas pemerintah, tetapi dapat berkembang menjadi pusat kegiatan ekonomi pertanian masyarakat.
“Petani jangan hanya menjadi penonton. Kalau pemerintah sudah membangun fasilitas pengolahan, kelompok tani harus menjadi bagian utama dalam pengelolaannya dan menikmati manfaat ekonominya,” ujar warga Sampit tersebut.
Di sisi lain, masyarakat juga berharap pengelolaan RMP dan RTR dilakukan secara transparan dan profesional. Produksi, penyerapan gabah, kapasitas pengolahan hingga pemasaran beras perlu dikelola secara terbuka agar tujuan program benar-benar tercapai.
Pasalnya, pembangunan fasilitas pengolahan padi membutuhkan investasi dan dukungan anggaran yang tidak sedikit. Karena itu, ukuran keberhasilannya bukan hanya terlihat dari berdirinya bangunan dan mesin produksi, melainkan dari meningkatnya nilai tambah hasil panen petani serta tersedianya beras berkualitas dengan harga yang dapat dijangkau masyarakat.
Program ini juga dinilai sejalan dengan kebutuhan Kalteng dalam memperkuat sektor pangan. Jika dikelola secara konsisten, RMP dan RTR dapat membantu memperpendek rantai distribusi, meningkatkan kualitas hasil penggilingan, serta membuka peluang usaha baru bagi masyarakat sekitar.
Namun demikian, keberlanjutan program tetap membutuhkan pengawasan dan evaluasi secara berkala. Pemerintah daerah bersama kelompok tani perlu memastikan fasilitas tersebut benar-benar beroperasi dan tidak menjadi aset yang hanya aktif pada awal program.
Harapan masyarakat sederhana: pabrik pengolahan padi harus hidup, petani harus mendapatkan manfaat, kelompok tani harus berkembang, dan masyarakat mendapatkan beras dengan harga yang wajar.
Dengan demikian, pembangunan RMP dan RTR di Kotawaringin Timur dan Pulang Pisau tidak hanya menjadi proyek pembangunan infrastruktur pertanian, tetapi benar-benar menjadi penggerak ekonomi masyarakat dan penguatan ketahanan pangan Kalimantan Tengah.( Taufik Hidayat)










