Dominasi tersebut menunjukkan bahwa produksi padi Kalimantan Tengah masih terkonsentrasi pada sejumlah daerah sentra yang memiliki peranan strategis dalam menjaga ketersediaan pangan dan mendukung program peningkatan produksi pertanian.
Kabupaten Kapuas menjadi penyumbang terbesar dengan rata-rata kontribusi mencapai 42,54 persen. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Pulang Pisau dengan kontribusi sebesar 22,64 persen.
Sementara itu, Kabupaten Katingan memberikan kontribusi sebesar 10,47 persen, disusul Kabupaten Kotawaringin Timur sebesar 9,75 persen. Kabupaten Barito Timur turut menyumbang rata-rata 5,26 persen, sedangkan Kabupaten Seruyan sebesar 2,54 persen.
Dengan total rata-rata kontribusi mencapai 93,56 persen, enam kabupaten tersebut menunjukkan peran yang sangat dominan sebagai sentra utama produksi padi di Kalimantan Tengah selama kurun waktu 2020 hingga 2025.
Besarnya ketergantungan produksi padi terhadap enam daerah sentra ini menjadi perhatian penting dalam penyusunan kebijakan pembangunan pertanian. Peningkatan luas tanam, produktivitas, ketersediaan sarana produksi, penguatan jaringan irigasi, hingga kesiapan menghadapi perubahan iklim menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan produksi.
Di sisi lain, daerah-daerah lain di Kalimantan Tengah juga memiliki peluang untuk terus dikembangkan sebagai sentra produksi pangan baru. Dengan penguatan enam kabupaten utama sekaligus pengembangan wilayah potensial lainnya, produksi padi Kalimantan Tengah diharapkan semakin meningkat dan mampu memperkuat ketahanan pangan daerah maupun nasional.
Kontribusi rata-rata produksi padi enam kabupaten sentra Kalimantan Tengah periode 2020–2025:
- Kabupaten Kapuas: 42,54 persen
- Kabupaten Pulang Pisau: 22,64 persen
- Kabupaten Katingan: 10,47 persen
- Kabupaten Kotawaringin Timur: 9,75 persen
- Kabupaten Barito Timur: 5,26 persen
- Kabupaten Seruyan: 2,54 persen
Total kontribusi enam kabupaten sentra: 93,56 persen.(Taufik Hidayat)










